A TEXT POST

Damai itu indah…

Belakangan ini, KP di kantor sering banget saya ngantuk, makanya, biar agak seger pagi-pagi, saya biasakan baca berita di website seperti kompas.com , detik.com , vivanews.com , atau headlines di yahoo.com

Pagi ini ada artikel di yahoo.com yang menarik perhatian saya, http://id.berita.yahoo.com/tony-blair-saya-baca-al-quran-setiap-hari-033000023.html dengan judul Tony Blair: Saya Baca Al Quran Setiap Hari.

Wah, jujur saja, waktu saya membaca artikel ini, saya pun sedikit “tersentil”…Jika seorang non-muslim bisa membaca Al Qur’an setiap hari, mengapa saya sebagai seorang muslim belum bisa melakukannya? (walaupun mungkin yang dibaca Tony Blair adalah versi terjemahan, bukan dalam bahasa Arab). Komentar di bawahnya pun cukup banyak. Tentunya ada komentar yang membangun dan ada juga yang justru memicu pertengkaran, bahkan dengan kata-kata yang tidak etis. Tapi terlepas dari komentar-komentar itu dan jujur tidaknya pernyataan beliau (tentunya sebagai muslim saya berharap bahwa beliau benar-benar membaca Al Quran), ada komentar yang menarik di artikel tersebut :

Di kampung asal saya mayoritas agamanya Katolik,dari kecil kami diajarkan untuk menghormati agama islam sebagai kebenaran yang lain..dan sebagai saudara kami. saya teringat ketika saya SD (sekolah katolik yg hampir semua murid di situ beragama katolik… ) kami disuruh oleh guru sekolah kami, untuk mengumpulkan batu2 seukuran yang kami mampu. guna membangun sebuah masjid kecil untuk beberapa keluarga Muslim di situ… sya teringat juga ketika pada tahun 2000..saat beberapa wilayah di negara kita, terserang wabah perang SARA…. pada waktu itu adalah malam lebaran. kami sangat heran ketika itu, karena tidak seprti biasanya malam itu sangat sepi..tidak seperti malam lebaran sebelum2nya yang ramai dengan pawai2an khas lebaran… beberapa pemuda Katolik tergerak hatinya untuk menanyakan hal ini pada salah seorang tokoh Islam di situ…Ternyata alasan umat Muslim tidak melakukan pawai,karena berkaitan maraknya pemboman gereja di Jakarta dan sekitarnya waktu itu….jadi mereka takut mungkin bkal terjadi sesuatu yang tidak diinginkan….saya teringat sekali waktu itu, salah seorang pemuda katolik berkata kepada tokoh Muslim itu:

” Malam ini harus ada pawai, kami yang menjaga keamanannya, siapa yag berani melawan kami”

Demikianlah malam itu terjadi pawai malam lebaran yang cukup meriah.. yang peserta pawainya hampir 70% persen orang Katolik…. plus anggota keamanannya..hehehehehe

(Komentar ini dipost oleh user Lako Nage)

Jujur, saya tersentuh dengan cerita ini. Saya yakin masih banyak cerita-cerita seperti ini yang terjadi, baik antara umat katolik-muslim dan sebaliknya, ataupun dengan umat-umat beragama lainnya. Yang sayangnya tertutupi oleh kebencian dan kekerasan antara umat beragama yang satu dengan yang lain.

“Bagimu agamamu dan untukku agamaku.” (Terjemah Q.S. Al Kaafiruun : 6) dan Rasulullah pun tidak pernah menyerang musuhnya sebelum diserang. Umat beragama lain yang tinggal di wilayah pemerintahan Islam juga diperbolehkan tetap menganut agamanya dan beribadah menurut agamanya masing-masing.

Sungguh miris melihat sekarang agama seringkali dijadikan alasan untuk menyerang penganut agama yang satu dengan penganut agama yang lain…Padahal,damai itu lebih indah kan? ;)